Silahkan dibagikanShare on whatsapp
Whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter

Metro, 24 September 2026- Dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional 24 September 2026, Yabima Indonesia menyelenggarakan diskusi bersama petani dari Lampung dan Sumatera Selatan. Diskusi tersebut mengusung tema “Petani dan Sekuritisasi Pangan: Membongkar Kontrol atas Tata Kelola Pangan”.  Diskusi tani ini berlangsung selama 2 hari dan dihadiri oleh perwakilan kelompok petani dampingan Yabima.

Tema ini dilatarbelakangi semakin luasnya keterlibatan kekuatan militer dalam urusan pertanian pangan.  Dalam pertemuan ini, petani tidak hanya diajak melihat persoalan dari perspektif kebijakan, tetapi juga mengenai berbagai pengalaman yang petani hadapi dalam kehidupan sehari-hari.  Pilihan diskusi menjadi penting karena persoalan pangan dan pertanian tidak dapat dipahami dari satu sudut pandang. Pengalaman petani menjadi bagian penting untuk melihat bagaimana kebijakan, kepentingan, dan berbagai aktor memengaruhi kehidupan pertanian. Pada saat yang sama, pertemuan ini juga mengangkat persoalan semakin melemahnya ruang kolektif dan solidaritas petani.

Diskusi dimulai dengan pertanyaan mengapa petani sulit untuk berorganisasi. Dari pertanyaan tersebut petani mengidentifikasi banyak persoalan, mulai dari petani sekarang yang lebih fokus pada lahannya masing-masing, jadwal mengenai produksi antar petani yang berbeda sehingga semakin lunturnya solidaritas. Kondisi sosial yang mengisolasi petani tersebut kemudian diperhadapkan dengan gejala keterlibatan militer dalam urusan pangan dan pertanian. Pembahasan kemudian diarahkan pada sekuritisasi pangan, terutama ketika pangan ditempatkan sebagai persoalan ancaman dan keamanan negara.

Melalui diskusi kelompok, petani membongkar berbagai situasi seperti distribusi pupuk bersubsidi yang melibatkan aparat militer, dan pencetakan lahan pertanian. Petani juga membongkar aktor-aktor yang terlibat dalam proses sekuritisasi pangan diantaranya aktor yang menentukan suatu kebijakan, aktor fungsional yang menjalankan kebijakan dan aktor rujukan dari setiap kebijakan dalam tata kelola pangan.

Pengalaman salah satu petani dari Tulang Bawang Pracak mengenai perusahaan yang didukung oleh aparat keamanan, awalnya mengajak kerjasama dengan petani untuk mengelola lahan milik perusahaan. Namun pembagian hasil tidak adil, dan perusahaan masuk ke lahan petani tanpa izin warga desa. Sampai sekarang lahan desa tersebut masih diklaim sebagai milik perusahaan, dan petani mendapat intimidasi dari perusahaan dan aparat keamanan. Dari situasi ini membuat petani merasa tertekan dan tertindas, muncul suara yang tegas dari petani: petani ingin memiliki ruang untuk menentukan harga hasil produksi, memilih benih dan jenis tanaman yang sesuai dengan kemauan petani, serta petani memiliki kendali atas lahan dan pertaniannya.

Pertemuan ini tidak hanya membongkar mengenai persoalan produksi pangan. Namun juga berbagai respon petani terhadap sistem pertanian yang selama ini membatasi ruang dan kendali petani.  Respon tersebut dapat dilihat melalui berbagai bentuk perlawanan, termasuk hidden transcript yaitu bentuk-bentuk perlawanan tersembunyi yang tumbuh dari pengalaman sehari-hari petani dalam menghadapi sistem yang tidak adil.  Pengalaman dan bentuk-bentuk perlawanan tersebut menjadi bagian penting dalam  membangun sistem pangan yang adil dan berkelanjutan yang berakar pada pengalaman petani.

Temu Petani tidak hanya menjadi ruang dalam membaca situasi persoalan pangan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat petani sebagai subjek yang memiliki pengetahuan, kepentingan dan peran dalam menentukan arah pertanian dan pangannya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*