Jurnal Petani Yabima Indonesia Edisi 2 Tahun 2025
Jurnal Petani Yabima Indonesia Edisi 2 Tahun 2025
Untuk edisi yang kedua ini, Yabima Indonesia menyajikan topik yang sudah cukup lama menjadi bahan diskusi para pihak baik itu praktisi lapangan maupun akademisi, yakni agroekologi. Kalau kita memperhatikan istilah itu sendiri, nampak di sana ada dua istilah yang digabungkan, agrikultur dan ekologi, atau pertanian dan ekologi.
Pertanian konvensional ini dilakukan dengan intensifikasi penggunaan tanah, monokultur, irigasi, aplikasi pupuk kimia buatan, pengendalian hama secara kimia, manipulasi genetika tanaman maupun hewan, dan hewan ternak skala besar (peternakan). Kesemuanya itu adalah tulang punggung industri pertanian modern. Pertanian konvensional ini tentu saja adalah model pertanian yang tidak lestari. Mengapa tidak lestari? Pertanian konvensional telah menyebabkan krisis tanah. Pertanian konvensional sangat berlebih dalam menggunakan air dan karena itu akan berdampak pada krisis air. Penggunaan bahan-bahan kimia telah menyebabkan pencemaran lingkungan hidup.
Gerakan agroekologi merupakan gerakan petani untuk mengambil kembali pertanian dari tangan kapitalis pertanian. Gerakan agroekologi menguatkan petani untuk menentukan cara produksi dan paska produksinya sendiri. Petani punya kendali. Komunitas lokal petani mempunyai kekuatan untuk menentukan arah pertanian yang pro kehidupan. Silahkan klik gambar di atas, Selamat membaca!





