Fri. Aug 23rd, 2019

Kemana Kaum Tani Akan Mencari Bibit?

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print
Sesi Perkenalan. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok. Mulai dari peternak, petani dan pekebun. Kemudian dalam 3 kelompok itu masing-masing diambil 3 orang untuk menjadi kelompok kecil. ada 6 kelompok yang terbentuk.

Yabima Indonesia mengadakan Temu Jaringan Organik dan Seminar Pertanian Organik pada tanggal 21-22 Januari 2019, di Wisma Centrum Metro-Lampung. Acara ini difasilitasi oleh Bpk. Suwarto Adi dari Yayasan Trukajaya, Salatiga, Jawa Tengah dan dihadiri oleh kurang lebih 50 orang penggerak pertanian organik Lampung dan Sumatera Selatan. Bertujuan untuk melihat  dan memetakan beragamnya tantangan yang dihadapi dalam pengembangan pertanian organik, seminar ini menekankan bahwa kita perlu memberikan perhatian secara lebih pada soal bagaimana pertanian akan menopang kehidupan dan penghidupan yang berkelanjutan di muka bumi ini.

Perkenalan ini bertujuan untuk memvisualkan perubahan sosial yang diharapkan

Banyak faktor yang sangat menentukan, baik itu faktor perubahan kultur pertanian dari konvensional (warisan revolusi hijau) menuju pertanian organik yang selaras dengan alam dan berkelanjutan. Seminar ini juga menekankan bahwa aktifitas manusia telah memicu pemanasan global. Mengkaji dan memetakan berbagai pengaruh pemanasan global dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan ketangguhan petani kecil dalam menghadapi berbagai dampak pemanasan global, dimana cuaca tidak menentu, banjir, kekeringan, dan lain sebagainya. Dan, salah satu hasil dari temu jaringan pertanian organik ini adalah, para petani yang menjadi peserta temu jaringan bersepakat untuk membentuk Paguyuban Petani Organik Sumatera Bagian Selatan (disingkat PAGPOSS).

Suasana salah satu kelompok perkenalan. Setiap kelompok kecil (yang beranggotakan petani, peternak dan pekebun) merumuskan harapan.

Dalam kondisi dimana banyak faktor mempengaruhi praktek pertanian, muncullah berbagai pertanyaan. Ketika kaum tani mencari bibit untuk ditanam, kemana dia akan mencarinya? Apakah akah pergi ke toko penjual bibit? Apakah petani akan mencari di tempat persediaan bibit di rumahnya sendiri. Kalau kita memperhatikan, petani lebih banyak akan mencari bibit itu ke toko-toko penjual bibit. Dibalik gejala dan realitas seperti ini, ada realitas berjarak. Ada realitas keberjarakan antara petani dan bibit, yang telah memisahkan petani dengan bibit tanamannya. Seorang petani padi, ketika akan menanam padi, akan mencarinya di toko-toko pertanian yang menjual bibit yang dia inginkan untuk ditanam. Petani melakukan kegiatan bertaninya harus ditopang dari pihak luar. Tidak hanya bibit tetapi juga pupuk maupun teknologi pertanian berasal dari pihak luar.

“Petani itu menanam. Identitas petani adalah menanam. Tanpa menanam, petani kehilangan identitasnya. Akan tetapi dalam perkembangannya, menanam pun menjadi kegiatan politis. Petani tidak dengan bebas menanam. Apa yang ditanam dan bagaimana cara memilih bibit  maupun pupuknya ditentukan oleh kekuatan dari luar dirinya. Sejarah kebijakan pertanian di Indonesia menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kebijakan Pemerintah Indonesia terhadap perkembangan pertanian di Indonesia. Dengan memilih pertanian organik, kita menunjukkan bahwa kita bisa mandiri, tidak bergantung pada siapapun untuk pertanian kita. Bibit kita bisa buat, pupuk kita bisa buat, pengendalian hama bisa kita lakukan! Ingat, hama juga ciptaan Tuhan, tidak boleh kita bunuh, tapi kita kendalikan!” antusias salah seorang peserta.

Apakah petani memiliki posisi tawar yang kuat? Kedaulatan seperti apakah yang diwacanakan pemerintah? Pertanian organik akan ditempatkan dimana, dalam politik pangan di Indonesia ini? Tentu saja pilihan dari pertanian konvensional menuju pertanian organik tidak saja soal pergantian teknik pertanian. Di balik itu semua ada aspek-aspek social, budaya, ekonomi maupun politik.

Kedaulatan pangan bukan soal ketahanan pangan. Bukan soal bahwa ada dan tersedia pangan yang cukup pada kurun waktu tertentu. Kedualatan pangan adalah gabungan antara hak atas pangan dan akses atas pangan. Jika pertanian organik dipahami sebagai strategi untuk mewujudkan petani yang berdaulat, maka pemberdayaan-pemberdayaan seperti apa yang dibutuhkan. Pertanian organik pun sering kali dipahami sebagai bentuk pertanian yang berkelanjutan, maka pertanyaannya adalah faktor-faktor apa saja yang sangat vital dan menentukan pertanian yang berkelanjutan tersebut.

HARAPAN-HARAPAN :

Kelompok Desa Kreatif

Desa kreatif. Harapannya akan menjadi petani yang kreatif. Semua kebutuhan di desa terpenuhi. Mandiri dalam memenuhi kebutuhan komunitas sehari-hari. Dalam rangka untuk membangun kemandirian desa, maka pemberdayaan-pemberdayaan masyarakat dan penguatan jaringan perlu untuk dilakukan. 

Kelompok Desa Harapan Maju

Harapanya semua pihak terlibat aktif untuk membangun desa yang sehat. Desa sehat, orang yang sehat dan pikiran yang sehat. Kesehatan masyarakat secara holistik. Semua pemangku kepentingan dan kebijakan saling mendukung satu dengan mendukung pengembangan pertanian organik. Pengembangan pertanian organik tidak dapat dilakukan secara sendiri. Ada aspek kebijakan dimana para pemangku kebijakan punya peran dalam mendukung dan memfasilitasi pengembangan pertanian, termasuk didalamnya mengembangkan pasar desa.

Kelompok Harapan Sejahtera

Ada komunitas yang di dalamnya ada pasar dan pusat pendidikan pengembanga pertanian organik. Ada tempat dimana semua pihak dapat belajar bersama.

Kelompok Desa Indah Lestari

Ada komunitas yang memanfaatkan peternakan untuk mendukung pertanian organik. Komunitas yang tidak ada lagi masukan-masukan dari luar,baik pupuk maupun produk lainnya. Masyarakat memanfaatkan dan mengkomsumsi dari produk sendiri. Aspek religius diperkuat sebagai ruang dan tempat mengembangkan refleksi yang terbuka bagi yang lain.  Refleksi yang justru dibangun membangun kerukunan dan persaudaraan.

Kelompok Desa Harapan Sehat

Harapan menjadi kampung yang sehat. Ada rantai makanan yang saling bertautan dimana itu terjaga dalam desa melalui pertanian organik. Tiap satu rumah mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri secara utuh (integral), dimana ada hubungan antara pertanian dan peternakan. Dengan keluarga memenuhi kebutuhannya secara mandiri maka hal itu akan mendoron terwujudnya desa yang sehat dan mandiri.

Hidup petani organik! Hidup petani mandiri!               

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*