05/12/2020

Belajar lagi!

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

IMG_7355Sebagian besar masyarakat Indonesia berpenghasilan utama dari bidang pertanian yang diiringi bidang peternakan. Demikian sebagian besar masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur. Untuk mendukung pelaksanaan pertanian tersebut agar memperoleh hasil pertanian yang maksimal diperlukan biaya produksi yang tidak sedikit dan petani merasa bingung untuk memperoleh dana tersebut. Sementara pendapatan petani untuk memenuhi biaya produksi tersebut tidak cukup karena pendapatan tersebut juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Petani berkeinginan mengajukan pinjaman ke Bank tetapi bunga pinjaman yang diberikan terlalu besar dan mereka tidak sanggup mengembalikan cicilan pinjaman tersebut setiap bulannya.

Anggota kelompok tani berpikir mencari cara atau solusi untuk mengatasi masalah pendanaan tersebut. Adakah instansi-instansi baik swasta maupun pemerintah yang memberikan pinjaman dengan bunga yang rendah? Dengan alasan tersebut beberapa anggota kelompok tani Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur membentuk sebuah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) sebagai sumber pinjaman bagi petani yang memberikan bunga pinjaman yang rendah. Modal dalam KSP tersebut dikumpulkan dari anggota kelompok yang kemudian diberikan kepada anggota kelompok dengan bunga pinjaman yang disepakati bersama. Bunga pinjaman yang diberikan kepada anggota koperasi berbeda dengan yang bukan anggota koperasi. Bunga pinjaman anggota koperasi lebih kecil dibandingkan dengan bukan anggota koperasi. Hal tersebut dilakukan untuk menarik orang lain untuk menjadi anggota koperasi sehingga KSP tersebut dapat maju dan berkembang dan modal dananya juga akan semakin bertambah besar.  KSP yang terbentuk di Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur serta menjadi dampingan Yabima Indonesia diantaranya ada Pra KSP Margo Mukti desa Rama Nirwana, Seputih Banyak, Lampung Tengah; Pra KSP Maju Bersama desa Purwo Kencono, Lampung Timur, dan KSU (Koperasi Serba Usaha)  Ambon Kuning desa Margototo, Lampung Timur.

IMG_7261Tanggal 29 – 30 Oktober 2013 Yabima Indonesia mengadakan pelatihan pembukuan lanjutan bagi pengurus koperasi khusus untuk juru buku dan bendahara koperasi. Pelatihan ini adalah sebuah pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas juru buku dan atau bendahara koperasi dan pra koperasi dampingan Yabima Indonesia dalam penyelenggaraan pembukuan koperasi sesuai dengan UU Koperasi No. 17 tahun 2012. Pelatihan ini merupakan lanjutan dari pelatihan sebelumnya yang telah dilaksanakan tanggal 2 – 3 Juli 2013 yang membahas tentang pembukuan dasar (KSPA, Kas Harian, DUM, DUK). Peserta pelatihan ini adalah juru buku dan atau bendahara : 1. KSU Ambon Kuning Metro Kibang: 1 orang; 2. Pra KSP Margo Mukti Rama Nirwana: 3 orang; 3. Pra KSP Maju Bersama Purwokencono: 4 orang. Pelatihan ini di fasilitasi oleh S. Widiyono, S.Sos (KSP Bina Swadaya) dan dibantu oleh Fintria Hermawati, S.Si.,S.Pd (Yabima Indnesia). Pelatihan lanjutan ini bertujuan untuk: (1) Pengelolaan keuangan koperasi transparan dan akuntabel; (2) Penyelenggaraan administrasi dan pembukuan koperasi berjalan dengan teratur, disiplin, lengkap, tertib, akurat, dan tepat waktu sesuai ketentuan undang-undang yang berlaku. Sehingga setelah pelatihan menghasilkan: (1) Juru buku dan atau bendahara koperasi paham dan mampu membuat laporan keuangan koperasi (Laporan Arus Kas, Laporan Perhitungan Hasil Usaha, dan Neraca) sesuai dengan ketentuan UU Koperasi No. 17 tahun 2012; (2) Juru buku dan atau bendahara koperasi mampu menghitung pembagian SHU (sisa hasil usaha).  Proses pelatihan ini  dilaksanakan dengan (1) Peserta menyampaikan proses berjalannya pembukuan koperasi selama ini. (2) Peserta menyampaikan cara mencatat transaksi ke dalam KSPA, Kas Harian, DUM, dan DUK dengan format baru sesuai dengan UU No. 17 tahun 2012.  (3) Peserta paham istilah-istilah baru dalam keuangan dan pembukuan koperasi seperti setoran-setoran, SMK, agio, disagio, dan lain-lain. (4) Peserta dapat membedakan perubahan istilah-istilah dalam keuangan yang lama dan yang baru, serta paham perubahan penempatannya pada neraca.(6) Peserta paham cara membaca laporan keuangan koperasi (Laporan Arus Kas, Laporan Perhitungan Hasil Usaha, dan Neraca). (7) Peserta mampu menganalisa kecenderungan dari laporan keuangan (8) Peserta mampu menghitung pembagian SHU. Agar peserta mampu memahami dan mampu membuat laporan keuangan dalam proses pelatihan, peserta diberi beberapa contoh soal yang berhubungan dengan materi yang diberikan.

Dari pelatihan yang dilaksanakan peserta mengaku sangat senang dan bersyukur dapat diundang dan diikutsertakan oleh Yabima untuk mengikuti pelatihan pembukuan ini. Kami jadi mengerti dan memahami cara mengerjakan pembukuan secara tertib dan teratur serta pengetahuan kami juga jadi bertambah, kami berharap Yabima tetap mendampingi kami dalam proses menertibkan setiap pembukuan koperasi, ujar pak wiyanto. Rencana tindak lanjut (RTL) dari pelatihan ini ke depannya Yabima akan mengadakan pelatihan pengelolaan koperasi untuk pengawas dan pengurus koperasi/pra koperasi dampingan Yabima yang pada akhirnya akan menghasilkan  satu asosiasi koperasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*