27/11/2020

Petani Kreatif

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

1Kelompok Tani Makmur Purwokencono mulai tertarik untuk beralih dari pertanian kimiawi menuju pertanian organik. Hal itu terliahat dari antusias anggota kelompok untuk belajar dan mengetahui cara-cara pembuatan pupuk dan pestisida secara organik. 25 September 2013 Yabima Indonesia mengadakan pembuatan Pupuk Pelengkap Cair (PPC) yang difocuskan untuk pertumbuhan tanaman dan pembuatan pestisida pengendalian hama keong secara organik yang difasilitasi oleh  formulator Pak Dwiantoro salah satu ketua Kelompok Tani di Truka Jaya 3. Hal ini diadakan untuk mendukung kelompok Tani untuk beralih ke pertanian organik.

Bahan-bahan yang diperlukan untuk pembuatan PPC organik untuk formulasi 20 liter: (1) Gula merah 5 kg dilarutkan dalam air; (2) daun sirsak 2 kg; (3) Urine ternak sapi 5 liter; (4) Pisang Ambon 5 sisir; (5) Susu Kambing murni 2 liter; (6) Air gedebok pisang 2 liter; (7) Air leri (cucian beras) 5 liter; (8) Air tape/Badek 2 liter; (9) Akar bambu 2 kg; (10) Daun muda 1 kg; (11) Rebung 1 kg; (12) Toge 1 kg; dan rendaman limbah karbit 1 liter.  Cara membuat: (1) Tumbuk kasar daun sirsak, daun muda, akar bambu, rebung, dan toge; (2) campurkan seluruh bahan ke dalam ember ukuran  30 liter; (3) aduk campuran hingga merata dan tutup rapat menggunakan tutup ember atau plastik putih; (4) Diamkan campuran selama satu minggu dengan mengaduk campuran selama 2 hari sekali agar bahan campuran dapat terurai dengan rata. Apabila campuran telah terurai  dan siap diaplikasikan pada tanaman dengan dosis awal penyemprotan sebesar 30 cc/tangki dengan rute penyemprotan satu minggu sekali. Setelah satu bulan dosis penyemprotan dapat dinaikkan menjadi 70 cc/tangki.

Dalam budidaya tanaman padi, banyak petani yang mengalami kesulitan dalam mengendalikan hama keong. Hama keong sangat sulit dikendalikan karena di dalam keong terdapat cacing pita yang membantu keong dapat bertahan hidup selama ± 1 tahun dalam musim kemarau. Hal tersebut yang menyebabkan petani sulit mengendalikan hama keong. Banyak petani padi yang mengambil jalan pintas dalam mengendalikan hama keong dengan menggunakan pestisida kimiawi. Secara organik hama keong tersebut dapat dikendalikan menggunakan bahan alami yang ada di sekitar lingkungan petani. Berikut bahan-bahan pembuatan pestisida keong secara organik untuk formulasi 10 liter: (1) Akar sembung 1 kg; (2) Gadung 5 kg; (3) Brotowali 1 kg; (4) Daun sirsak 1 kg; (5) Biji jarak 1 kg; (6) Tembakau 1 kg; (7) Akar Jenu 1 kg; (8) daun bebandotan/lombokan 1 kg; (9) buah mahkota dewa 1 kg; dan (10) akar cipir 1 kg. Cara membuat: (1) Tumbuk kasar Akar sembung, gadung, brotowali, daun sirsak, biji jarak, akar jenu, rumput bebandotan, buah mahkota dewa dan akar cipir; (2) campurkan semua bahan dengan air 10 liter dalam sebuah bak ukuran 10 liter; (3) Aduk campuran hingga rata lalu tutup menggunakan papan; (4) Diamkan campuran selama 3 – 4 hari. Setelah jadi campuran tersebut harus segera diaplikasikan agar bahan tersebut dapat bereaksi dengan baik dan cepat dengan dosis 120 cc/tangki. Bahan tersebut harus segera diaplikasikan karena semakin lama didiamkan larutan tersebut akan semakin berkurang khasiat atau reaksi larutan tersebut dalam mengendalikan hama keong.

Bahan-bahan organik yang digunakan dalam pembuatan pupuk cair dan pestisida pengendali hama keong tersebut bukanlah bahan yang baku/keharusan. Bahan-bahan tersebut dapat diganti dengan bahan-bahan alami lainnya sesuai dengan kreatifitas petani. Misalnya pembuatan PPC pertumbuhan dapat mengunakan bahan alami lainnya dari tanaman yang mempunyai kekuatan tumbuh yang cepat yang ada di sekitar lingkungan petani.  Mari kita manfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar lingkungan kita menuju Pertanian Organik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*