Ada Apa Dibalik Hewan Ternak dalam Dunia Pertanian
Jika kita meninjau kembali hubungan pertanian dan peternakan dimasa lalu, hubungan ini sangat kuat dan harmonis. Kini wajah pertanian dan peternakan mengalami perubahan ke arah industrialisasi kapital yang mengsyaratkan standarisasi demi mendapatkan profit yang sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan relasi antara manusia dengan alam.
Di Era orde baru, target swasembada protein menjadi prioritas dengan tujuan mencukupi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia yang semakin banyak jumlahnya. Kondisi ini menciptakan peluang modernisasi pertanian yang mengubah fungsi ternak. Ternak yang awalnya menjadi bagian dari sistem produksi pertanian dan berperan sebagai tenaga kerja, misalnya membajak sawah, dan lain-lain, kini digantikan oleh mesin-mesin pertanian, misalnya handtraktor. Tenak yang awalnya mengangkut hasil pertanian kini sudah digantikan oleh kendaraan bermesin yang dinilai lebih cepat dan lebih banyak daya angkutnya. Dalam pemenuhan pangan keluarga seperti memelihara ternak untuk kebutuhan telur, daging sebagai sumber protein hewani. Dengan hadirnya modernisasi, cara seperti ini dianggap tidak relevan dan lambat berkembang, yang akhirnya peternak kecil kalah bersaing karena tidak memiliki akses.
Dengan demikian, dampak sosialnya adalah perubahan fungsi ternak seperti membuat pemisah antara peternakan dan pertanian. Kalau kita memperhatikan jenis ternak yang dimilki petani, rupanya semakin banyak kepemilikan ternak yang fungsi utamanya bukan lagi pendukung pertanian secara langsung. Nampaknya ternak-ternak tersebut, misalnya sapi pedaging, dipelihara utamanya sebagai fungsi instrumen investasi dalam keluarga tani. Petani berharap mendapatkan selisih penjualan dan mendapatkan keuntungan dari penjualan ternaknya tersebut. Ternak tersebut menjadi komoditas, barang dagangan, yang otomatis mengikuti mekanisme pasar. Sistem gaduh tradisional yang sangat menekankan nilai-nilai sosial kini pun digantikan dengan sistem-sistem kemitraan korporasi.
Gambar diatas merupakan relasi jaring korporasi peternakan. Di sana menampilkan bahwa bahan pangan yang terkadang ada di meja makan adalah hasil dari proses panjang dan ada kepentingan pihak-pihak bermain di dalamnya Semua bagian berdiri dan dibentuk dari suatu rangkaian struktur relasi kuasa. Petani-peternak masuk dalam rangkaian rantai pasok daging. Mereka harus bersaing dengan peternak-peternakan skala besar yang berbasiskan korporat. Umumnya peternak skala besar ini beroperasi dengan skema kemitraan. Dengan skema kemitraan ini, pihak-pihak korporat menjanjikan jaminan pasar. Artinya, semua tidak terjadi begitu saja. Ada relasi kuasa yang bermain di dalamnya. Dalam kerangka industry peternakan berbasis korporat, ternak dipandang sebagai komoditas yang bisa dikontrol melalui bibit, pakan, obat, dan standar teknis lapangan. Agar mata rantai tidak putus, petani diikat melalui kontrak kemitraan.
Sementara itu, ternak lokal yang lebih adaptif terhadap lingkungan sering kali dianggap tidak kompetitif dalam logika pasar modern, sehingga perlahan tersisih. Seharusnya pertanian dan ternak saling berintegrasi mempengaruhi komponen-komponen agroekosistem dan menjadi jaminan untuk menjadi pertanian-peternakan yang berkelanjutan dan adil.


