Silahkan dibagikanShare on whatsapp
Whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter

Sebanyak 23 orang kader petani perwakilan dari 6 kelompok asal Lampung dan Sumsel mengikuti Temu Kader Petani ke – 5 dengan tema “Memperkuat Gerakan Agroekologi dalam Mewujudkan Kemandirian Petani dan Kedaulatan Pangan”. Di selenggarakan oleh Yabima Indonesia pada 19 November 2025 di Yayasan Bina Sarana Bakti (BSB)- Agatho Organic Farm, Cisarua Bogor, para kader nampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan meskipun harus melalui perjalanan panjang 3 hingga 4 hari.

Eko Nugroho selaku Direktur Yabima Indonesia menyampaikan penting bagi seorang kader membangun visi dan membagikannya kepada anggota kelompoknya. Dalam mengorganisir kelompok serta menggali-mengenali berbagai persoalan petani baik dari aspek sosial, politik, ekonomi serta budaya yang mempengaruhi proses produksi petani, maka diperlukan pendidikan kader yang dilakukan secara tertata dan sistematis. Tema besar pendidikan kader tahun ini adalah “Pendidikan Kritis Petani untuk Pembebasan”, dan kali ini para kader diajak untuk mengenal salah satu bentuk pertanian berkelanjutan di Agatho Organic Farm, Cisarua Bogor.

Di fasilitasi oleh Bpk. Apri Larastio-Sekretaris Yayasan BSB, Ibu Christiana Citra Nariswari, dan Bpk. Edji Suradji, peserta belajar di kelas dengan sesi Mengenal Sejarah Agatho Org Farm, Manajemen Budidaya Pertanian Organis – Holistik Ekosistem, dan kunjungan lapangan ke kebun Agatho. 

Nama Agatho sendiri berasal dari pendirinya yakni Pater Agatho Elsener, OFMCap.  Menurutnya, organik itu belum tentu organis namun organis sudah pasti organik. “Organis berasal dari dari kata Organ, aslinya Yunani Organon “arti alat kerja” kata dasarnya ergon “pekerjaan”. Jadi organis alat kerja, organ yang kerja untuk organisme.” Apakah organis dengan organik itu sama? Organis adalah aspek spiritualitas dan filosofis dalam prakteknya. Dengan meyakini bahwa tanah dan tanaman memiliki jiwa yang harus dihormati untuk menjaga keseimbangan alam. Sementara organik lebih pada paraktek pertanian yang tidak menggunakan pupuk sintetis. Penggunaan pupuk kandang dan limbah tanaman sebagai pendukung pertanian.

“Alam sudah bekerja sebagaimana mestinya dan manusia hanya mendukung saja dan pikiran ini yang mendasari dibuatnya pertanian organis sebagai sarana pembangunan BSB. Mulai tahun 1987 seluruh lahan BSB dimanfaatkan untuk pertanian organis, yang berarti pertanian yang mengikuti hukum alam, dimana segala bentuk asupan kimia sintetis (pestisida dan pupuk) dihentikan total. Dan sejak saat itu BSB dikenal sebagai salah satu pionir pengembangan pertanian organis (natural farming) di Indonesia.” Ujar Bpk. Apri.

Pada akhir acara, para peserta diminta untuk menyampaikan kesan dan harapannya. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Yabima Indonesia yang terus mendampingi kami dan membawa kami sampai ke Agatho. Banyak pembelajaran yang sudah kami dapat dan itu menyemangati kami yang akan terus belajar sepulang dari Agatho.” Ujar Bpk. Julius, kader dari Kelompok Konco Tani- Sumsel.

Sementara Bpk. Novi salah satu kader dari Komunitas Mardi Buwono- Sumsel menyampaikan mereka menangkap bahwa Agatho Organic Farm tidak memaksakan tanah untuk terus berproduksi, tetapi juga selalu melakukan pola tanaman tumpang sari. Agatho Organic Farm sudah sangat ketat sesuai dengan Standard Operational Prosedure (SOP) , sementara mereka petani kecil yang sangat jauh dengan SOP. Kelompok akan berat jika meniru Agatho, tapi harapannya menjadi penting memulai dari hal kecil untuk semakin “professional” seperti Agatho.

Sebagai penutup, baik pihak BSB maupun Yabima Indonesia memotivasi peserta untuk menerapkan pembelajaran yang diperoleh dari Agatho di komunitasnya masing-masing, dan menyematkan harapan semoga temu kader terakhir ini semakin memperlengkapi dan membekali para kader dalam melakukan pembedahan-pembedahan kritis terhadap situasi terkini pertanian dan pangan. -FH

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*