Silahkan dibagikanShare on whatsapp
Whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter

Temu Petani Organik Sumbagsel ini diselenggarakan oleh Rumah Kawan, Yabima Indonesia, di Wisma Centrum GKSBS, Metro pada 22-23 Agustus 2022. Ini adalah kali kedua Temu Petani Organik di Lampung dan Sumatera Selatan. Diikuti oleh kelompok-kelompok tani dari desa Kedaton Induk (Kelompok Tani Banyuwangi Makmur dan Plalangan Lestari), kelompok tani dari desa Rama Nirwana (kelompok dalam dan kelompok luar), Kelompok Tani dari desa Purwokencono (Kelompok Tani Multibaliwo), Kelompok dari desa Sidorejo (Kelompok Tani Tunas Harpan IV), dan Kelompok Tani dari desa Sumber Harapan, Belitang II, Sumatera Selatan. 

Beberapa hal yang didiskusikan adalah tentang pengalaman dari sisi konsumen beras organik, relasi yang terjadi pada petani saat memproduksi bahan pangan, membingkai pasar lokal dengan kedaulatan petani, dan mengidentifikasi kekuatan pasar yang dapat melemahkan pertanian organik.

Sharing Pengalaman Konsumen Organik

Pada Pertemuan Petani Organik Sumbagsel yang kedua ini, Yabima mengajak perwakilan sebuah komunitas pasar lokal di Kota Metro. Ibu Hifni Septina Caroline dari Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi). Komunitas ini terbentuk pada tahun 2018 di Kota Metro, tepatnya di sebuah tempat di kelurahan Yosomulyo. Dan sekarang, Dharma Setiawan yang juga salah satu penggagas komunitas Payungi ini sedang mendampingi pembentukan komunitas-komunitas serupa di berbagai tempat. Komunitas Payungi juga pernah diundang dan tampil di acara Kick Andy yang dipandu oleh Andy F Noya di Metro TV.

Setiap Minggu pagi, masyarakat diberikan kesempatan untuk menjual produk-produk lokal, baik berupa jajanan, makanan, maupun kreasi dan seni seperti melukis. Produk pertanian organik dari Yabima Indonesia juga memiliki tempat tersendiri di sini. Terutama beras merah dan beras hitam. Mengapa beras merah dan beras hitam yang menjadi pilihan “pasar” di Payungi ini? Ibu Hifni menjelaskan bahwa selain kesadaran untuk hidup sehat, rata-rata para konsumen ini memilih beras merah untuk program diet, karena beras merah organik memiliki kandungan gula yang rendah dan menyehatkan. Hanya memang ada harapan dari konsumen soal harga. Jika harga beras organik ini bisa sama dengan beras konvensional, atau setidaknya tidak terlalu jauh jarak, bisa jadi konsumen beras organik, utamanya beras merah, akan jauh lebih banyak. Karena memang selama ini, masyarakat memahaminya produk organik itu lebih mahal dari yang bukan organik. Kondisi masyarakat yang sedemikian ini tidak dipungkiri menjadi salah satu penyebab konsumen beras organik (atau produk organik lainnya) memiliki konsumen yang segmented. Hal ini pula yang juga dirasakan di tingkat produsen atau petani itu sendiri. Mereka merasa tidak mudah memasarkan produknya, karena konsumen yang terbatas ini. Dalam hal menciptakan pasar organik, Ibu Hifni mencoba untuk memberi masukan agar komunitas-komunitas petani ini juga menciptakan pasar lokal sendiri di masing-masing tempat. Dibandingkan dengan membawa hasil produksinya di pasar Payungi, misalnya, tentu membutuhkan waktu dan tambahan biaya karena terlalu jauh. Akan lebih baik jika menciptakan pasar-pasar lokal di komunitas masing-masing.

Relasi Petani dalam Produksinya

Bicara tentang pertanian, identitas negeri ini tak diragukan lagi adalah sebagai negeri agraris. Walau tak sekuat dulu, identitas ini masih layak disematkan saat ini. Bagaimana tidak, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote terbentang sumber daya alam yang sangat besar dan subur, bahkan negara-negara lain tidak memiliki alam sesubur Nusantara. Walau secara kekinian, budaya negeri agraris ini telah banyak mengalami pergeseran. Bahkan disinyalir, kaum muda saat ini sudah semakin meninggalkan dunia pertanian. Tentu saja dengan berbagai alasan yang “masuk akal”. Dari yang paling ringan seperti dunia yang makin kental dengan budaya digital, sampai dengan alasan yang lebih kronis, yaitu karena kebijakan pertanian dan agraria yang memiliki momentum menciptakan suasana saat ini yang sudah tak seksi lagi bagi kaula muda untuk bertani. Buat apa menjadi petani jika tak punya tanah? Hanya menjadi buruh tani. Buat apa menjadi petani jika tanah makin kurus dan untuk membuatnya kembali “subur” mesti bergantung pada pihak lain berupa pupuk kimia sintetis. Buat apa menjadi petani jika untuk menanam saja mereka tak memiliki benih mandiri dan harus bergantung lagi pada pihak lain? Buat apa menjadi petani jika ketika panen pun mereka tak memeiliki harga itu sendiri?

Dari semua pemaparan hasil diskusi kelompok tentang relasi petani dalam produksi pertaniannya, semua sepakat dengan satu kondisi seperti ini; bahwa petani sejak awal akan menanam sudah harus mencari benih yang tidak murah, setelah tumbuh, akan dilanjutkan dengan mencari pupuk yang juga tak kalah mahalnya. Keadaan ini tak jarang membuat petani sudah meminjam modal terlebih dulu dari yang memiliki modal, yang tak jarang pula itu bukan petani. Tentu saja dengan perjanjian nanti setelah panen, gabahnya harus dijual ke pemilik modal. Karena ternyata relasi ini tidak berhenti sampai di benih dan pupuk saja. Ketika panen pun mereka juga akan “dipinjami” mesin pemanen gabah. Pada akhirnya, petani hanya akan membawa pulang uang sisanya. Sudahlah harga di bawah harga wajar, hanya dapat sisanya pula.  Petani seolah-olah menyerahkan hidupnya pada sang pemilik modal, yang kebanyakan juga bukan petani. Para pemilik modal ini paham bahwa kawula muda saat ini tidak tertarik menjadi petani, maka pemilik modal ini akan menciptakan mesin-mesin sebagai ganti tenaga kerja, dibarengi dengan modal pinjaman untuk kebutuhan petani. Pada akhirnya, petani akan tercerabut dari pertaniannya.

Pertanian Selaras Alam

Pada tahun 1970-an, pemerintah memperkenalkan konsep pertanian yang kita kenal sebagai revolusi hijau. Mengejar produksi yang sebesar-besarnya dengan berbagai cara, termasuk yang paling masif adalah penggunaan pupuk dan pestisida kimia sintetis. Di samping juga dimulainya penggunaan benih yang semakin tak memberikan banyak pilihan terhadap petani. Toh pada akhirnya apa yang menjadi kritik terhadap kebijakan revolusi hijau ini baru disadari saat ini. Dan itu ternyata telah membelenggu petani, misalnya tentang ketergantungan petani terhadap pupuk, pestisida, herbisida, dan sebagainya. Belum lagi tentang dampak rusaknya tanah, yang dulu subur maka saat ini tanah banyak dinilai sudah kurus. Pada kondisi ini, petani justru semakin terjerembab pada lingkaran masif ini. Untuk terus bertani di lahan yang kurus ini maka petani harus tetap bergantung pada pupuk. Dari segi benih pun, petani sangat sulit jika menggunakan benih lokal, karena setiap lahan sudah tersetting sebagai pertanian yang bergantung pada semua hal yang disebutkan tadi. Salah satu peserta bahkan sempat mengatakan bahwa pada jaman dulu, 1 ha lahan bisa menghasilkan produksi jagung hingga 12 ton. Kondisi ini dicapai dengan menggunakan pupuk kimia sintetis pada lahan yang masih subur. Tapi sekarang, itu mustahil terjadi. Mengapa? Ya karena tanah semakin kurus kekurangan unsur hara yang telah mati oleh kimia sintetis dari pupuk dan pestisida maupun herbisida. Bagaimana petani dapat bertindak merdeka sekarang ini? Bagaimana petani bisa melepas belenggu perusahaan-perusahaan pertanian berskala trans nasional dalam relasi yang tak menguntungkan petani sama sekali? Mampukah?

Matius Serun sebagai fasilitator mengatakan bahwa kita tak akan bisa mengalahkan raksasa pertanian trans nasional ini. Tetapi kita bisa memulai dengan skala komunitas untuk mengembangkan pertanian selaras alam. Perlahan-lahan kembali kepada alam untuk  menjaga ekosistem tetap seimbang. Eko Nugroho merincinya dalam prinsip pertanian alami, yaitu kita perlu mengembangkan pertanian yang tidak menggunakan bahan kimia sintetis, mengembangkan kesetiakawanan, kebersamaan dan gotongroyong dalam menyediakan kompos, pupuk organik cari maupun padat, dan juga pestisida alami. Cara ini sudah diyakini untuk merawat ekosistem dan keseimbangan ekologi untuk tidak merusaknya.

Kekuatan Pasar yang Melemahkan Pertanian Selaras Alam

Pada hari kedua, peserta diajak untuk mendiskusikan tentang pasar dan aktor-aktor yang menguasainya. Pertanyaan pembantunya adalah: siapa yang paling menentukan dalam pasar global? Bagaimana aktor-aktor yang ada tersebut bisa menguasai pasar? Mengapa kondisi ini bisa terjadi? Dan dimanakah posisi petani dalam pasar bebas? Untuk mendiskusikan hal ini, peserta kembali dibagi dalam kelompok.

Dari diskusi yang terjadi, poin penting yang muncul dari semua kelompok adalah tentang adanya para pemodal yang menguasai pasar. Ini seperti tengkulak dan pemodal yang ada di skala kecil dalam relasi petani sehari-hari. Dan jika pemodal ini “difasilitasi” dengan kebijakan pemerintah maka akan menjadi sesuatu yang akan menguasai petani-petani itu sendiri. Seperti perusahaan-perusahaan pertanian berskala trans nasional yang sempat disinggung pada tulisan di atas. Dari benih hingga panen, ada mereka semua.

Nah, bagaimana hal ini bisa terjadi? Selain karena legalitas dari sebuah kebijakan pemerintah, tak dipungkiri juga bahwa perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar menjadi pemicunya. Cengkraman dari semua formula ini membuat petani tak akan pernah bisa menentukan nasibnya sendiri.

Komunitas Pasar Lokal

Seperti apa yang disampaikan oleh Ibu Hifni dari Pasar Payungi bahwa petani dalam sebuah komunitas dapat membentuk pasar-pasar lokal, akan dapat membantu petani. Apalagi jika ini dihubungkan dengan pertanian organik yang selaras dengan alam. Misalnya tetang sertifikasi atau jaminan mutu yang selama ini dikeluarkan oleh badan penjamin mutu. Bukankah ini sebetulnya dapat menjadi jebakan baru bagi petani? Apabila pasar lokal ini sudah terbangun, tentunya kepercayaan terhadap produk petani bisa dijunjung tinggi sehingga petani tak perlu untuk melibatkan badan penjamin mutu dalam produksinya. Karena sertifikasi ini, disamping membutuhkan biaya yang mahal, juga membuat petani merasa enggan. Jika pasar-pasar lokal dalam komunitas ini banyak yang terbentuk, petani tidak memerlukan pihak ketiga seperti badan penjamin mutu untuk meyakinkan konsumen.

___

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*