Tue. Nov 19th, 2019

Pertanian Organik adalah Tentang Proses, Bukan Produk

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Selama dua hari, tanggal 29 sampai 30 Juli 2019 diadakan pertemuan para penggiat petani organik. Kegiatan ini dihelat dalam Seminar dan Lokakarya Petani Sadar Iklim. Dihadiri oleh 31 orang baik petani organik yang tergabung dalam kelompok tani maupun praktisi pertanian organik secara individu. Selain itu juga dihadiri oleh utusan beberapa klasis di lingkup GKSBS.

Diawali seminar tentang iklim yang dihantarkan oleh Bpk. Suparji, ST dan Ibu Eva Nurhayati M,Si dari BMKG Lampung. Dalam seminar ini para peserta diajak untuk memahami tentang perubahan iklim serta dampak-dampaknya yang tentu berhubungan dengan musim tanam. Diharapkan ada langkah-langkah taktis yang bisa dilakukan petani guna menyiasati perubahan iklim.

Pak Suparji, ST sedang memberikan materi tentang perubahan iklim

Dalam sesinya, Bpk. Suparji, ST sepat memberikan pengetahuan cara membuat alat ukur curah hujan sederhana dari media ukur berbentuk silinder.

Sedangkan pada sesi malam diisi oleh sharing pengalaman dan pengetahuan tentang organik yang dipandu oleh Bpk. Wangsit dari Aliansi Organik Indonesia (AOI). Pada sesi ini perserta dimantabkan kembali mengenai prinsip dan nilai-nilai organik. Bahwa pertanian organik pada utamanya adalah soal produk sehat dan pelestarian lingkungan. Bahwa bicara tentang organik adalah tentang klaim proses, bukan klaim produk. berbicara tentang organik adalah budidaya dan usaha untuk mengatasi cemaran kimia sintetis. Mengapa disebut kimia sintetis? Karena pada dasarnya di alam ini penuh dengan bahan kiia. Tapi dalam paradigma pertanian organik adalah menghindari cemaran kimia sintetis. Mengapa pertanian organik menolak kimia sintetis?

  • Ekonomi biaya tinggi karena petani tidak bisa membuat sendiri kimia sintetis. Petani harus membelinya.
  • Kimia sintetis tidak mudah terurai di alam dan akan mengendap menjadi racun
Bapak Wangsit dari Aliansi Organik Indonesia (AOI) memberikan materi tentang pasar produk organik

Berdasarkan data yang disampaikan, ada 3 jenis produk yang tidak mengalami penurunan dalam pasar ekspor yaitu produk halal, busana muslim dan produk organik. Jadi untuk pasar organik sebenarnya masih sangat menjanjikan dan bervareasi dari jenis produknya. bahkan buah nangka saat ini mengalami kenaikan permintaan untuk negara Eropa karena digunakan untuk pengganti daging. Untuk produk organik sendiri mengenal jenis pasar modern (supermarket) dan pasar alternativ (gerai dan individu). Yang jelas untuk menjaga pasar, perlu diperhatikan beberapa hal berikut :

  • JUMLAH. kita bisa memproduksi sesuatu yang bagus tetapi jumlahnya harus memadai. Misalnya apakah petani berani kontrak penyediaan selama 1 ton per bulan?
  • KUALITAS. bagaimana menjaga kualitas tetap baik secara berkesinambungan dan “ajeg”
  • KONTINYUITAS. Apakah akan ada lagi produk itu di petani? Konsumen produk organik adalah LANGGANAN. Jika tidak kontinyu maka konsumen akan hilang.

Dari seluruh sesi hari pertama semiloka ini ada beberapa catatan penting yang perlu menjadi perhatian bersama, yaitu :

  • BMKG selalu memberikan informasi prediksi 10 harian dan 30 harian kepada masyarakat. Bisa diakses melalui nomor WA di 085215901819 dan IG di @infoiklimlampung
  • Ada perbedaan prediksi BMKG dengan system pranotomongso pada kearifan budaya Jawa. Prediksi BMKG 10 hari lebih lambat (mundur) dari pranotomongso. jadi perlu menjadi catatan penting untuk petani.
  • Pasar produk organic masih terbuka lebar, bukan hanya beras tetapi untuk sayur dan buah juga. Yang terpenting adalah ada data lahan yang tepat dan pasar bersama untuk menjamin kontinyuitas produk. Karena konsumen produk organic adalah langganan.

Kita terbiasa menjual yang BIASA kita hasilkan, bukan yang BISA kita hasilkan. Jadi kembangkan apa yang BISA kita produksi buka yang BIASA kita produksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*