Fri. Aug 23rd, 2019

Tidak Ada Yang Diuntungkan Dari Kekerasan Yang Dilakukan-Tentang Gender Bagian 2

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Pada bagian pertama tulisan ini kita sudah sampai pada pemahaman tentang apa itu gender. Bahwa gender adalah seperangkat tuntutan, asumsi dan harapan pada laki-laki maupun perempuan oleh masyarakat dapat juga diartikan bahwa gender itu konstruksi social masyarakat. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah konstruksi ini akan menjadi masalah?

Seorang ibu muda dimarahi oleh ibu mertuanya karena ternyata dia tidak bisa masak. Ibu mertua beranggapan bahwa perempuan itu harus bisa memasak. Maka konstruksi yang dibangun bahwa perempuan harus bisa memasak ini akan menjadi masalah. Konstruksi yang DIHARUSKAN akan menimbulkan tekanan bagi seorang ibu muda tersebut.

Konstruksi gender sebenarnya tidak akan menjadi masalah jika itu disepakati dengan syarat tetap memperhatikan kesetaraan kuasa antara laki-laki dan perempuan dalam kesepakatan tersebut dan tidak menimbulkan ketidakadilan.  Lalu bagaimana menentukan ketidakadilan yang mungkin terjadi? Ada 5 macam ketidakadilan gender, yaitu :

  • Stereotyping atau pelabelan. Pada ketidakadilan ini misalnya terjadi pada perbedaan laki-laki dan perempuan dalam mengekspresikan cinta. Konstruksi yang dibangun adalah, menjadi masalah jika perempuan menyatakan cinta terlebih dulu. Sedangkan laki-laki akan sah-sah saja menyatakan cinta. Contoh lain lagi adalah status seoarang janda yang sering diberi label sebagai pelakor.
  • Subordinasi atau penomorduaan. Pada ketidakadilan ini misalnya terjadi pada kesempatan laki-laki yang dikonstruksikan lebih memiliki kesempatan besar untuk menempuh pendidikan tinggi disbanding perempuan. Atau contoh lain adalah dalam pengambilan keputusan-keputusan di desa sering kali hanya melibatkan laki-laki. Jikapun perempuan diundang maka hanya sebatas menyiapkan konsumsi.
  • Marginalisasi atau peminggiran. Biasanya secara ekonomi. Misalnya buruh tani laki-laki dan buruh tani peremuan menerima upah yang berbeda. Asumsi yang diberikan adalah laki-laki lebih kuat.
  • Double burden atau beban ganda. Ketika seorang perempuan keluar dari ruang domestiknya untuk berkarir mencari nafkah, hal ini tidak diimbangi oleh laki-laki untuk juga membantu pekerjaan domestic (mengurus rumah dan anak).
  • Kekerasan terhadap perempuan.

Dalam realitas masyarakat sudah sering kita saksikan apa yang disebut dengan relasi kuasa. Seseorang bisa memiliki kekuasaan yang lebih tinggi dibandingkan seorang yang lain. Dalam tangga relasi, bayangkan anak tangga yang diberi nomor pada setiap stepnya, kemudian dari relasi kuasa yang terjadi di masyarakat, siapapun bisa berada pada step anak tangga manapun. Sesuai dengan konteks masyarakat yang bersangkutan.

Pak Jarot kerja di bank. Mendapatkan target dari bosnya untuk penyaluran kredit ratusan juta dalam sebulan. Setelah bekerja keras ternyata tidak mencapai target. Kemudian dimarahi dan dihujat bosnya. Dia sakit hati. Apakah Pak Jarot ini berani untuk melawan perlakuan yang dia alami? Pasti tidak berani karena masih ingin kerja. Kemudian dipendam dan pulang ke rumah, dilampiaskan kepada istrinya di rumah. Kemudian istrinya apakah berani melawan suaminya ketika menjadi objek pelampiasan suami? Pasti tidak berani. Kemudian kekesalan istri akan dilampiaskan kepada anak pertama. Kemudian anak pertama akan ke adiknya. Kemudian ke asisten rumah tangga, dan seterusnya. Inilah contoh tangga relasi kuasa yang menjadi realitas di kehidupan.

Dalam pohon masalah bisa digambarkan seperti berikut:

“Pohon Masalah” untuk menggambarkan konsep akar penyebab, pemicu, tindakan dan dampak kekerasan berbasis gender
  • Akar pohon menggambarkan akar masalah yang menjadi akar penyebab masalah. Dalam hal kekerasan berbasis gender, akar penyebab masalah adalah relasi kuasa yang timpang atau tidak setara antara laki-laki dan perempuan dan konstruksi gender yang kaku yang sudah sejak lama dibentuk dalam masyarakat.
  • Kemudian batang pohon menggambarkan pemicu terjadinya kekerasan. Dalam hal ini adalah kondisi ekonomi, factor pendidikan, status social, salah paham atau alcohol. Semua ini hanya pemicu karena jika tidak ada akar penyebab yang disebutkan di atas maka pemicu-pemicu ini bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik.
  • Selanjutnya adalah daun. Ini menggambarkan bentuk-bentuk kekerasan. Yang termasuk kekerasan adalah kekerasan fisik (memukul), kekerasan psikis (perselingkuhan ataupun disbanding-bandingkan), kekerasan seksual (ancaman, penetrasi), pelecehan seksual (tindakan berkonotasi seksual yang membuat orang lain merasa tidak nyaman), kemudian kekerasan social (dikucilkan dan perundungan atau bullying).
  • Sedangkan buah-buah pohon menggambarkan dampak-dampak kekerasan. Misalnya saja sakit fisik dan cacat tubuh, gangguan mental, kesehatan reproduksi terganggu, sampai pada perilaku negative.

Kekerasan terjadi dari orang yang memiliki kekuasaan yang lebih tinggi ke yang lebih rendah. Ada relasi yang timpang. Relasi yang timpang dan tidak setara ini menjadi salah satu akar masalah yang secara fundamental menjadi penyebab kekerasan berbasis gender. Setiap orang berpotensi untuk menjadi korban maupun pelaku kekerasan di mana pun. Di keluarga, di masyarakat, di tempat pendidikan, di tempat kerja dan sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*