Home / Pembangunan Perdamaian / Rumah Kawan, Untuk Semua

Rumah Kawan, Untuk Semua

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Yabima Indonesia mengadakan rangkaian kegiatan untuk mengawali tahun baru 2019, dimulai sejak tanggal 4-5 Januari 2019. Dengan melibatkan 22 orang pemuda-pemudi yang pernah menjadi peserta pelatihan pemetaan partisipatif kerentanan resiko dan kapasitas komunitas, Yabima Indonesia mengajak pemuda-pemudi untuk merefleksikan hasil pelatihan yang pernah mereka ikuti di tahun 2018. Para pemuda pun terlibat langsung dalam kegiatan puncaknya, peresmian dan pemberkatan “Rumah Kawan” Yabima Indonesia yang dihadiri oleh kurang lebih 70 orang.

Refleksi malam dimulai dengan merenungkan makna perkawanan. Makna perkawanan yang berdasarkan cinta kasih, mengandung suatu panggilan yang menyerukan kepada siapapun untuk mencintai sesamanya. Setiap orang yang memperjuangkan perkawanan untuk semua orang adalah orang-orang yang hidup dan tinggal dalam cinta kasih. Seorang kawan, seorang sahabat yang sejati adalah seorang yang memberikan puncak cintanya dalam kesediaan untuk memberikan nyawanya, kehidupannya bagi sahabatnya. Yabima sebagai kawan bagi semua orang, siapakah kawan Yabima Indonesia? Mereka yang terpanggil untuk menaburkan cinta kasih bagi segenap ciptaan di tanah Sumatera Bagian Selatan. Demikian juga halnya Yabima menjadi kawan, sahabat bagi semua orang, dipanggil untuk menghayati cinta kasih dalam praksis pengosongan diri (asketisme) untuk berbagi kehidupan bagi yang lain.

Dilanjutkan dengan kegiatan yang merefleksikan peran pemuda dalam menanggapi berbagai persoalan sosial di Lampung, baik itu bencana sosial berupa kekerasan yang terjadi akibat dari konflik antar etnis yang pernah terjadi di Lampung, maupun bencana alam yang disebabkan oleh erupsi anak Gunung Krakatau di Selat Sunda. Kegiatan ini difasilitasi oleh Sdr. Putra dan Sdri. Tabita. Refleksi ini menghasilkan beberapa kesepakatan sebagai berikut :

  • Perlunya pendidikan mengenai kebencanaan, baik bencana alam mapun bencana sosial.


  • Perlunya pemuda-pemudi untuk mengembangkan kemampuan dalam pengelolaan dan pengurangan resiko bencana di komunitasnya masing-masing.


  • Perlunya pemuda mengembangkan kapasitas dalam pelestarian lingkungan hidup.

Dalam peresmian dan pemberkatan “Rumah Kawan”, Sekretaris MPS GKSBS memberikan pesan agar “Rumah Kawan” ini menjadi tempat untuk belajar, mengembangkan kapasitasnya bagi para pihak, baik untuk jemaat GKSBS maupun masyarakat. Pembangunan kantor Yabima Indonesia merupakan bagian rencana program yang tertuang dalam Rencana Strategi Yabima Indonesia tahun 2017-2021, khusus dalam pengembangan kelembagaan. Pembangunan Kantor Yabima Indonesia dapat terwujud atas kerjasama Yabima Indonesia dengan Kerkinactie dan EO Metterdad Belanda.
Filosofi “Rumah Kawan”, berasal nilai perkawanan. Nilai itulah yang kemudian menjadi dasar utama Yabima Indonesia melakukan tugas panggilan pelayannnya, yakni mewujudkan keadilan, perdamaian bagi segenap ciptaan. Visi tentang perkawanan memanggil Yabima Indonesia memberi diri dan mengajak semua pihak untuk dapat saling menerima, saling memberi, saling menghargai dan saling memberdayakan.

Apakah gereja dan lembaga pelayanannya dapat memberikan jawaban atas krisis lingkungan hidup? Pdt. Henriette Neuwenhuis menegaskan bahwa tidak ada satu cara yang dapat dianggap dapat menjadi satu jawaban untuk semua krisis lingkungan yang sedang terjadi? Gereja Hijau yang ditawarkan bukan untuk menjawab semua krisis tersebut. Dengan melihat Gereja Hijau, kita dapat belajar dari orang lain dari belahan dunia yang lain bagaimana mereka memberikan tanggapan terhadap krisis lingkungan yang sedang terjadi. Konteks lokal perlu mendapatkan perhatian dalam porsi yang lebih besar. Konteks lokal tersebut dilihat dari kacamata global, dan konteks lokal menjadi ruang untuk melakukan aksi-aksi yang relevan sesuai dengan konteksnya.

Bertindak adil kepada lingkungan hidup merupakan dasar etis filosofis global untuk aksi-aksi dalam skala lokal. Sebagai bagian dari pelayanan gereja, maka refleksi teologis kritis pun tidak dapat ditinggalkan. Isu lingkungan hidup merrupakan persoalan iman dan spiritual. Gereja dan lembaga pelayanannya perlu untuk menggali kekayaan-kekayaan tradisi dan sumber iman dan mendialogkannya dengan persoalan krisis lingkungan hidup. “EN”

About Super Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

EnglishIndonesian
Scroll To Top