Home / Peace Building / Membangun Pendidikan Perdamaian Di Sekolah

Membangun Pendidikan Perdamaian Di Sekolah

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Mulai Dari Sekarang, Mulai Dari Hal Mudah dan Terkecil, Mulai Dari Diri Sendiri!

Yabima Indonesia bekerja sama dengan unit-unit sekolah di lingkungan Yayasan Pendidikan Kristen Lampung (YPKL) melakukan inisiasi “Lokakarya Membangun Pendidikan Perdamaian” sebagai upaya membangun kapasitas (capacity building) bagi guru dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Kegiatan yang diselenggarakan pada 11-13 Juli 2018 ini difasilitasi oleh Titut Sudiono, M.E.Sy. – Dosen IAIN Metro, dan pendeta di lingkungan GKSBS, Pdt. Eko Nugroho, Pdt. Alfred R.G. Ta’ek, Pdt. Longgar Purnomo, dan Pdt. Karel Eka Putra Barus. Bertempat di Wisma Centrum Sinode GKSBS Metro, acara ini diikuti oleh kurang lebih 25 orang peserta yang terdiri dari guru-guru SMPK Seputih Raman, SMPK Pugung Raharjo, SMPK Metro, SMAK Metro, SMPK Bandarjaya dan SMAK Terbanggi Besar.

Melalui acara ini diharapkan guru memiliki pengetahuan dasar tentang pendidikan perdamaian di sekolah, dan mampu menemukan gambaran cara pengembangan penerapan pendidikan perdamaian di sekolah. Materi yang disampaikan antara lain pemetaan konflik dan kekerasan di sekolah, konflik dan kekerasan, urgensi pendidikan perdamaian, metode pendidikan perdamaian di sekolah, dan praktek pengembangan pendidikan perdamaian.

Bila menelaah konflik lebih dalam, tentu tidak akan pernah habis dan tuntas, mengingat bentuk dan jenis konflik selalu beragam serta datangnya ada yang “disengaja” juga ada yang tidak disengaja atau tiba-tiba. Tapi yang jelas konflik yang terjadi sebenarnya bukan bagian dari rencana masif dari para pemeluk agama, suku atau mereka yang faham dan mengerti bahwa konflik itu tidak akan pernah mendatangkan manfaat dan kemanfaatan bagi umat bangsa ini.” ujar Titut Sudiono.

Sudah saatnya perlu adanya by design dalam menyikapi konflik, baik secara personal maupun kolektif yang berbasis TSM (Terstruktur, Sistematis, dan Masif) termasuk pada lembaga pendidikan yang selama ini sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam proses perubahan moral anak bangsa. Sebagai lembaga yang selama ini mengarusutamakan aspek pengetahuan (Cognitif) sebagai capaian dari pola mendidik, sudah waktunya sekolah-sekolah mengimbangi aspek cognitif dengan aspek sikap (Affektif) dan aspek ketrampilan (Psikomotorik) yang mengajarkan tentang moral, etika dan hidup toleransi dalam proses kegiatan belajar mengajar, mengingat fenomena bullying dan presekusi yang dilakukan oleh anak didik sudah mengarah kepada bentuk kekerasan secara fisik. Bahkan ironinya, dari hasil riset sebuah lembaga riset pada Perguruan Tinggi Islam yang berbasis Kajian Agama dan Perdamaian menyatakan bahwa, 51,22% anak usia remaja kerap kali melakukan aksi kekerasan, baik secara perorangan maupun kelompok. Hal ini mereka lakukan dengan beberapa alasan, baik alasan faktor eksistensi maupun faktor pembenaran diri atau kelompok terhadap sesuatu yang diyakini terhadap suatu “ajaran agama tertentu” serta etnis atau golongan tertentu yang mengarah pada bentuk intoleran antar sesama umat beragama. Dengan demikian maka lembaga pendidikan harus diberikan peran aktif dalam ikut serta menciptakan perdamaian disekolah.

Semoga kegiatan ini mampu menciptakan kerjasama antara unit sekolah (SMPK) denganYabima Indonesia guna penerapan pembangunan perdamaian di sekolah berdasarkan kebutuhan dan kebijakan di sekolah masing-masing.

***titut***

 

 

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

About Super Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Scroll To Top