Home / Pertanian Organik / Pelatihan SRI-SLPHT di GKSBS Bukit Sion

Pelatihan SRI-SLPHT di GKSBS Bukit Sion

Silahkan dibagikanShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page

img_0856aBerbicara soal petani dan pertanian di Lampung ksususnya dan Indonesia pada umumnya, akan sangat kompleks situasi dan persolaan yang terjadi.  Indonesia dengan Negara Agraris yang dilintari garis katulistiwa, membuat Indonesia melimpah kaya sumber daya alam, terutama pertanian.  Slogan/jargon tanah yang subur makmur, gemah ripah loh jinawi memang milik Indonesia.  Hampir semua daratan Indonesia adalah lahan produktif bagi pertanian, dan hanya sedikit saja yang kurang subur. Letak geografis yang memberikan kesuburan tanah Indonesia ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan capaian hasil-hasil pertanian yang membanggakan. Terbukti, sampai sekarang ini Indonesia belum mampu untuk berswasembada beras yang posisinya adalah sebagai kebutuhan pokok bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Tentu kalau menilik potensi SDA yang ada bukan faktor tersebut yang mengakibatkan produktifitas pertanian di Indonesia berjalan lamban, yang perlu mendapat sorotan adalah program atau sistem pertanian yang dikerjakan di Indonesia

 

Bagaimana kondisi petani pada saat pengelolaan pertanian? Tidak asing terdengar di telinga kita ketika memasuki musim tanam, petani akan dihantui oleh sejumlah kelangkaan. Mulai dari kelangkaan pupuk, kelangkaan bibit dan terkadang kelangkaan obat-obatan. Padahal ketersediaan pupuk, bibit dan obat-obatan merupakan bagian tidak terpisahkan dari pertanian (rakyat), ketika satu saja dari elemen tersebut tidak tersedia maka hasil pertanianpun tidak akan maksimal. Kelangkaan bibit mendorong petani untuk menggunakan bibit seadanya yang tidak memenuhi standar mutu benih, sehingga bisa dipastikan tanaman yang tumbuh-pun tidak memiliki kualitas yang baik. Demikian juga dengan minimnya ketersediaan pupuk di petani, akan menjadikan tanaman yang ditanam merana dengan masa depan panen yang tidak jelas.

Belum terkawalnya regulasi pemerintah tentang pendistribusian pupuk serta obat-obatan sampai ditangan petani merupakan persoalan serius yang harus segera diselesaikan, sehingga terhindar dari permainan oknum tidak bertanggung jawab memanfaatkan momentum kebutuhan tersebut untuk “lebih mencekik leher petani” dengan menimbun serta menjual kebutuhan pertanian dengan harga tinggi.

Petani di Indonesia memang sebagian besar belum bisa melepaskan diri dari ketergantungan pupuk dan obat-obatan kimia. Walaupun untuk jangka panjang, pertanian dengan menggantungkkan pada pupuk dan obat-obatan kimia akan semakin memperpuruk kondisi kesuburan tanah dan kerentanan akan serangan hama dan penyakit.

Penggunaan pupuk kimia memang menjadikan tanah pertanian subur secara instan, karena unsur hara yang mensuplai kesuburan tanah tidak ikut terbaharui dengan penggunaan pupuk kimia ini. Oleh karenanya, penggunaan pupuk kimia tidak ubahnya sebagai suplemen yang memforsir kesuburan tanah dalam waktu singkat tanpa menghiraukan ketersediaan unsur hara yang masih dikandung oleh lahan pertanian tersebut. Kondisi ini lambat laun akan mengikis kesuburan tanah/lahan yang terus dieksploitir/dikuras.

Setali tiga uang, penggunaan pestisida dan obat-obatan kimiawi memang dengan cepat mampu mengusir hama dan mengobati penyakit tanaman. Namun, sampai kapan hama dan penyakit itu mempan dengan obat-obatan kimiawi tersebut? Sebab hama dan penyakit lambat laun akan membangun kekebalan tubuh terhadap obat-obatan kimia. Meracik dan menciptakan bahan kimia baru juga bukan merupakan solusi tepat untuk mengatasi hal ini, sebab disamping keefektifitasannya yang tidak sebanding dengan perkembangan hama dan penyakit, unsur kimia dalam pestisida ini juga tidak bisa hilang pada hasil produk pertanian yang akan dikonsumsi oleh manusia. Jadi produk pertanian dengan menggunakan pestisida kimiawi cenderung mengarah pada makanan yang tercemar.

Beberapa negara telah memberlakukan peraturan ketat tentang bahan pangan yang mengandung kimiawi ini. Sejalan dengan hal tersebut maka banyak negara yang hanya mau mengimpor bahan makanan yang bebas dari unsur kimiawi.

Melihat perkembangan dunia pangan khususnya produk pertanian dewasa ini, sudah menjadi keharusan apabila pertanian dilaksanakan secara organik. Potensi mengembangkan pertanian organik di Indonesia pun terbilang sangat terbuka lebar, hal ini karena tersedianya berbagai unsur tanaman yang berfungsi sebagai pupuk organik maupun pestisida nabati serta memungkinkan berkembangbiaknya musuh alami (predator) bagi pengendalian siklus hidup hama dan penyakit.

Pupuk organik (kompos) sudah tidak asing lagi bagi petani-petani di Indonesia. Pada era pertanian klasik kompos yang biasanya terbuat dari kotoran hewan maupun sisa-sisa tumbuhan yang telah membusuk digunakan sebagai bahan andalan penyubur tanaman. Seiring dengan maraknya penggunaan pupuk kimia keberadaan pupuk organik pun mulai ditinggalkan oleh para petani.

Begitupun dengan perkembangan hama dan penyakit, banyak yang menilai hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, seperti anomali cuaca dan rusaknya ekosistem alam. Tetapi meningkatnya hama dan penyakit tanaman dewasa ini juga tidak menutup kemungkinan karena berkurangnya musuh alami (predator) di alam bebas, sehingga terjadi ketidak- seimbangan ekosistem. Contohnya mewabahnya hama tikus dikarenakan populasi ular yang sudah langka, mewabahnya wabah belalang karena menurunnya populasi burung pemakan belalang, dan lain sebagainya.

Disamping penggunaan musuh alami untuk pengendalian hama dan penyakit, penggunaan pestisida nabati juga sangat mungkin untuk diterapkan. Indonesia memiliki varietas tumbuhan obat untuk penggunaan pestisida nabati. Penggunaan pestisida nabati ini juga sudah tidak asing lagi diterapkan oleh para petani tradisional. Seperti penggunaan tembakau untuk mengusir hama wereng dan lain sebagainya. Di era sekarang ini pun semakin banyak ditemui beberapa ekstrak (sari rendaman fermentasi) tanaman untuk menanggulangi hama dan penyakit, seperti penggunaan ekstrak lengkuas untuk pengendalian penyakit layu pada pisang, ekstrak daun siri untuk mengurangi kebusukan pada buah salak dan tentunya masih banyak lagi model pengendalian hama terpadu dengan menggunakan teknik nonkimiawi dengan menggunakan ektraks tumbuhan yang berfungsi untuk mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman.

Pertanian organik memang tidak memberikan reaksi instan pada hasil-hasil pertanian, akan tetapi dengan pelaksanaan pertanian organik akan membawa pertanian berjangka panjang dan memberikan solusi bagi tersedianya bahan pangan yang sehat. Oleh karena itu di era pertanian modern sekarang ini, penerapan pertanian organik mutlak diterapkan, secara gradual dan sistematis para petani dapat mengurangi bahkan menghilangkan ketergantungannya terhadap bahan-bahan kimia.

Penerapan pertanian organik bisa berjalan dengan beberapa syarat pertama, ada political will dari pemerintah dengan penerapan program-program pertanian organik, kedua didukung oleh tenaga penyuluh yang kompeten dan langsung terjun ke lapangan (petani), ketiga bekerja sama dengan lembaga riset/perguruan tinggi untuk mendapatkan temuan-temuan baru di bidang pertanian organik. Kerjasama dengan peneliti dan perguruan tinggi ini penting agar penemuan-penemuan hasil penelitian iitu dapat diaplikasikan dalam bentuk nyata didunia pertnian, bukan hanya sebagai karya ilmiah yang dibukukan dan dijadikan referensi di perpustakaan-perpustakaan tanpa aplikasi nyata. Oleh karenanya, Yabima Indonesia hadir untuk dalam rangka menjadi bagian dari semangat dan upaya terciptanya pertanian organik tresebut.  Salah satu upaya yang bisa dilakukan Yabima Indonesia yang bekerjasama dengan Gereja GKSBS Bukit Sion adalah dengan memfasilitasi pelatihan SRI-SLPHT kepada sebagian jemaat GKSBS Bukit Sion yang petani

Dengan terlaksanananya sistem pertanian organik, berarti lepasnya ketergantungan petani dari pupuk dan obat-obatan kimia, masa depan pertanian di Indonesia akan semakin baik, para petani bisa mandiri serta produk pertanian jelas semakin berkualitas.

 

Pelatihan SRI-SLPHT dilakukan dari awal sampai panen (18 kali pertemuan) yang diikuti oleh 10 orang, dengan tujuan:

  • Petani tahu cara memilih benih padi yang bernas/berbobot
  • Petani tahu cara penyemainan dan penanaman yang lebih hemat benih dan berpotensi produksi tinggi
  • Petani tahu akan prinsip 4 PHT (Pengendalian Hama Terpadu)
  • – Budidaya tanaman sehat
  • – Pelestarian musuh alami
  • – Pengamatan rutin
  • – Petani cerdas dan mandiri
  • Petani tahu dan dapat membedakan antara hama, penyakit, dan musuh alami
  • Petani tahu ciri-ciri dan pola hidup-perilaku hama-hama yang sering menyerang tanaman padi serta tahu cara-cara pengendaliannya secara terpadu

Saat panen dihadiri oleh masyarakat setempat dan mengapresiasi baik diadakannya pelatihan tersebut

 

dsc04132 dsc04133 dsc04135 dsc04150 img_0787 img_0804 img_0842 img_1074 img_1218 img_1327 img_3023 img_3172 img_3221

Silahkan dibagikanShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page

About Irwan Kris

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Scroll To Top