Home / Pertanian Organik / Menuai Gerakan Massive Planting

Menuai Gerakan Massive Planting

Silahkan dibagikanShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page

Semangat Baru bagi Pak Jiman

 

2.Organic rice harvest, Purwokencono

Petani tidak perlu pusing dengan hilangnya pupuk kimia dipasaran saat awal musim tanam sehingga harga pupuk kima menjadi tinggi dan menambah biaya produksi petani. Pak Jiman yakin dengan  kemandirian petani atas pertaniannya maka upaya-upaya peningkatan hasil produksi, harga dan perbaikan ekonomi bisa dicapai secara bertahap.

Program “Massive planting padi organik” yang dicanangkan Yabima Indonesia bersama kelompok-kelompok tani di Purwokencono pada tahun 2014 mulai menuai hasil. Di massive planting padi organik tahun 2015 terdapat peningkatan komitmen dan luasan penanaman padi organik. Yang ditahun lalu hanya 4 ha menjadi 25 ha dengan partisipasi anggota dari 12 orang pada tahun 2014 menjadi 34 orang ditahun 2015. Pak Jiman, adalah satu petani yang bersemangat dengan program ini. Pak Jiman yakin dengan  kemandirian petani atas pertaniannya maka upaya-upaya peningkatan hasil produksi, harga dan perbaikan ekonomi bisa dicapai secara bertahap.

Program “Massive planting padi organik” yang dicanangkan pada tahun 2014 mengalami banyak kendala terutama karena faktor cuaca yang pada saat itu musim kemarau, dan juga serangan hama wereng yang mewabah pada semua wilayah hamparan padi di Lampung. Pada saat panen dan pengelolaan pasca panen menghasikan 4 ton gabah kering yang kemudian digiling menjadi 2,4 ton beras organik yang pengelolaan pasca panennya diserahkan pada IPPOL dan pemasarannnya dibantu oleh Yabima Indonesia. Dari Massive Planting 2014 tentu saja Yabima Indonesia, IPPOL dan Kelompok banyak mendapatkan pengalaman terkait kendala, perbaikan dan pola pendampingan yang lebih efektif dalam massive planting selanjutnya.

Dengan pola pendampingan IPPOL yang lebih efektif dan tingkat pengetahuan petani yang sudah cukup baik dalam pengendalian hama, maka di musim tanam tahun 2015 ini padi tidak mengalami banyak kendala. Pola pendampingan dilakukan IPPOL dengan memonitoring langsung 3 titik disetiap kelompok pada setiap minggu secara rutin. Petugas pendampingan ditunjuk langsung berdasarkan keahlian dan kebutuhan sesuai dengan perkembangan tanaman padi organik. Hasil pengamatan setiap minggu dan konsultasi masalah pada lahan diarahkan langsung pada upaya aktif petani dalam mencegah dan memastikan tanaman padi tidak terserang hama dan juga penyakit.

Pada saat panen, dari program massive planting menghasilkan produksi gabah secara keseluruhan mencapai 60 ton dari 25 ha hamparan sawah. Dari pengalaman pengelolaan pasca panen yang lalu, IPPOL dan Yabima Indonesia saat ini menetapkan pembelian gabah kering. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas hasil gilingan yang sama dari kualitas beras yang dijual. Pada tahun yang lalu pilihan menerima beras banyak mengalami kerugian karena hasil gilingan padi yang kotor dan patah-patah. Dari jumlah produksi massive planting tahun 2015 IPPOL telah mengelola sekitar 13 ton gabah kering. Gabah kering yang diterima dari petani kemudian akan disimpan di gudang di Negeri Jemanten dan akan diproses (giling, ayak, kemas) menjadi beras organik siap jual sesuai permintaan konsumen yang sudah dipastikan oleh Yabima Indonesia. Penetapan gudang di Negeri Jemanten juga berdasarkan atas pengalaman yang lalu dimana tidak ada gudang dan tempat gilingan yang terintegrasi sehingga menyebabkan biaya transportasi dan operasional menjadi tidak efektif.

Hingga saat ini IPPOL sudah menggiling gabah kering sebanyak 4.5 ton menjadi beras organik yang dikemas siap jual. Pengemasan yang dulunya dikemas dengan menggunakan plastik sekarang dirubah dengan menggunakan karung. Perubahan ini dikarenakan kemasan plastik banyak mengalami kerusakan dan sangat menyulitkan dalam proses distribusi penjualan. Harga yang ditetapkan untuk beras organik saat ini mencapai Rp. 12.000 per kg dengan 3 varietas unggulan yaitu Mentik Susu, Ciherang dan Rojo Lele. Harga tersebut tentu saja sudah dihitung berdasarkan atas harga beli gabah yang tetap menguntungkan petani (selisih Rp. 500 dari gabah kimia) biaya transportasi, kemasan dan operasional IPPOL. Saat ini penjualan padi organik sudah menyebar ke konsumen tidak hanya di Kota Metro tetapi di Kota Pringsewu, Bandar Lampung dan kota di pulau Jawa.

Seiring berjalannya waktu dengan melihat hasil produksi yang cenderung stabil dan harga jual padi organik yang lebih menguntungkan dari padi kimia, maka masyarakat yang awalnya mencemooh dan mencibir mulai berubah dan tertarik untuk menerapkan pola pertanian organik. Mereka mulai menyadari pola pertanian organik selain menguntungkan secara pendapatan juga berdampak pada perbaikan kesuburan tanah. Pak Jiman merupakan salah satu anggota kelompok Multi Baliwo yang merupakan peserta SLPHT SRI tahun 2010 dan tahun 2013 yang yakin dalam menerapkan pola pertanian padi organik hingga saat ini.

Menurut Pak Jiman proses penanaman padi organik dan padi kimia sama-sama rumit, baik pada pola penanamannya dan pemeliharaannya. Yang membedakan adalah pada padi kimia setiap proses mengharuskan petani untuk membeli pupuk dan obat-obatan kimia sedangkan padi organik petani bisa membuat sendiri pupuk dan obat penanggulangan hama berdasarkan kebutuhan tanaman tersebutkata Pak Jiman. Menurut pengalamannya, di musim tanam 2014 yang lalu membuktikan keunggulan padi organik dari padi kimia. Pada saat itu hampir semua lahan padi terkena serangan hama wereng termasuk lahan padi organik Pak Jiman dan lahan padi kimia tetangganya. Dari SRI/SLPHT saya teringat bahwa hama wereng harus dikendalikan dan tidak dibunuh maka saya membuat ramuan pengendalian hama yang berasal dari rendaman buah maja yang disemprot secara rutin pada lahannya.ujarnya. Hal ini terbukti efektif dibanding  tetangganya yang menyemprot lahannya dengan obat kimia tetapi tidak mengurangi jumlah wereng yang menyerang padi. Hal yang sama juga dilakukan oleh anggota kelompok lain dengan perlakuan yang berbeda, ada yang menggunakan urine sapi, rendaman bawang putih, rendaman tembakau dan yang lainnya sesuai dengan eksperimentasinya masing-masing.

Pak Jiman sudah menyadari keuntungan lain yang didapat dari pertanian organik, yaitu petani terbebas dari belenggu ketergantungan, dimana petani saat ini bisa memenuhi sendiri kebutuhan tanamannya dengan memproduksi sendiri pupuk padat, cair dan pestisidanya. Petani tidak perlu pusing dengan hilangnya pupuk kimia dipasaran saat awal musim tanam sehingga harga pupuk kima menjadi tinggi dan menambah biaya produksi petani. Pak Jiman yakin dengan  kemandirian petani atas pertaniannya maka upaya-upaya peningkatan hasil produksi, harga dan perbaikan ekonomi bisa dicapai secara bertahap.

Silahkan dibagikanShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page

About Fintria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Scroll To Top