Home / KPBH Bima / Ratusan Mahasiswa Peduli Konflik Agrarian

Ratusan Mahasiswa Peduli Konflik Agrarian

Silahkan dibagikanShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page

Sebanyak 170 mahasiswa FISIP Unila mengikuti refleksi akhir tahun bertema “Quo Vadis Konflik Agraria di Lampung” yang diselenggarakan oleh Yayasan Bimbingan Mandiri (Yabima) Indonesia dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sosiologi FISIP Unila.Hadir sebagai narasumber  Syahrul Sidin dari  Persatuan Petani Moro-Moro Way Serdang (PPMWS), Anomo Gabungan Petani Lampung (GPL), Tamrin, Pemuda Tani  Bersatu, Hendrawan WALHI, Oki Hajiansyah  AGRA, dan dimoderatori oleh Sugianto Yabima Indonesia. Sebagai penanggap   adalah dosen dari FISIP UNILA Hartoyo dan  Cahyono ES.

Menurut Hartoyo, konflik agraria di Lampung merupakan konflik agraria tertinggi kedua di Seluruh Indonesia. Oleh karena itu, goal dari seminar ini adalah bagaimana persoalan atau isu agraria di Lampung  bisa diselesaikan secara damai oleh berbagai pihak. “Saya memaklumi masalah agraria yang terjadi di Indonesia dan di Lampung khususnya. Masalah reforma agraria muncul karena konsep pengelolaan yang diterapkan oleh pemerintah lebih dikuasai oleh birokrasi-birokrasi penguasa Negara dan kerabat-kerabatnya. “ ujar Cahyono, salah penanggap lainnya dalam seminar tersebut.

Sebagai akdemisi, para penanggap memposisikan diri agar tidak bertentangan dalam arus utama atas  pembicaraan dalam seminar. “Saya melihat ada kesalahan atas pengelolaan Negara : pertama, terjadi struktur pemhaman yang tidak populis atau pro rakyat, sehingga kebijakan pembangunan banyak menyengsarakan rakyat. Kebijakan penguasa pada masa colonial, Negara menguasai tanah. Pada masa kemerdekaan ada usaha untuk mengembalikan pada rakyat, tapi struktur hukumnya tidak bertahan lama dan akhirnya kandas. Kedua struktur kekuasaan, Negara Indonesia terdiri atas Negara, pengusaha dan petani. Ada hubungan yang baik antra Negara dan pengusaha yang menindas petani. Dan ketiga, struktur Dominasi. Isinya adalah produk hukum, lembaga dan badan Negara yang dibuat sengaja untuk tetap mendominasi kekuasaan pemilik modal dan penguasa. Masalah pertanian menggunakan hukum yang represif bukan hukum responsive” Kata Hartoyo.

Pinarno Adi manager Program ICCO-YABIMA menyambut baik seminar agrarian ini, sebagai lembaga swadaya masyarakat yang juga memberikan perhatian terhadap konflik-konflik agrarian di Lampung, Pinarno juga memandang perlunya keterlibatan kalangan perguruan tinggi dalam mencari jalan keluar atas konflik agrarian yang terjadi. Seminar ini juga dimeriahkan dengan pembacaa puisi dari Nabi Penyair Lampung, Eddy Samudra Kertagama yang membacakan puisi-puisi bernada kritik sosial.

Silahkan dibagikanShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page

About Fintria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Scroll To Top